Film “Tamu Maghrib” Syuting di Purbalingga, Angkat Budaya Banyumas ke Layar Lebar

PURBALINGGA — Purbalingga mendapat kesempatan menjadi salah satu lokasi produksi film nasional. Film Tamu Maghrib garapan sutradara Jay Sukmo menjalani pengambilan gambar di Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga.

Kehadiran produksi film tersebut disambut Pemerintah Kabupaten Purbalingga karena dinilai dapat membuka peluang bagi talenta lokal sekaligus memperkenalkan budaya dan potensi daerah kepada penonton di seluruh Indonesia.

Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, membuka proses syuting pada Rabu (15/7). Ia berharap keterlibatan produksi film nasional tidak berhenti pada penggunaan lokasi, tetapi juga memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi pelaku industri kreatif daerah.

“Kami berharap ada transfer pengetahuan dan teknologi produksi film kepada pelaku kreatif di daerah,” ujar Dimas.

Berawal dari film pendek viral

Tamu Maghrib diproduksi JSF Creative Studio dan dikembangkan dari film pendek dengan judul yang sama yang sempat viral di YouTube pada 2023. Film pendek tersebut telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali sebelum akhirnya dikembangkan menjadi film layar lebar.

Cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang seseorang yang dilaporkan hilang saat waktu magrib di wilayah Banyumas. Kisah tersebut kemudian dikembangkan menjadi thriller psikologis dengan latar kehidupan masyarakat Banyumas Raya pada era 1990-an.

Film ini dibintangi Masayu Anastasia dan Asri Welas. Ceritanya berpusat pada perjuangan seorang ibu menghadapi tekanan psikologis, ketakutan, serta persoalan yang mengancam keluarganya.

Pelumutan dipilih karena autentik

Produser Tamu Maghrib Anggit Danurendra, mengatakan Pelumutan dipilih karena memiliki suasana pedesaan dan bangunan tradisional yang sesuai dengan kebutuhan cerita.

Selain kondisi lingkungan, dialek serta budaya masyarakat setempat juga dinilai mampu memperkuat latar Banyumas dalam film.

“Lokasinya masih autentik, begitu juga dialek dan budaya masyarakatnya sangat sesuai dengan skenario,” kata Anggit.

Menurut dia, Banyumas Raya masih relatif jarang digunakan sebagai latar film nasional. Karena itu, Tamu Maghrib diharapkan sekaligus menjadi pintu untuk mengenalkan budaya lokal kepada penonton yang lebih luas.

Film ini dijadwalkan masuk jaringan bioskop nasional pada akhir 2026 atau awal 2027 setelah seluruh proses produksi dan pascaproduksi selesai.